Sabtu, 16 November 2019

author photo
Sumber: hai.grid.id

Banyak orang membeli tanah seluas-luasnya untuk investasi properti sehingga bisa meraih keuntungan materi sebesar-besarnya di masa depan.

Lain ceritanya dengan Suhendri, kakek berusia 78 tahun ini. Ia menolak tawaran Rp 10 Miliar demi mempertahankan tanah seluas 1.5 hektar miliknya. Tanah tersebut telah ia jaga sebagai hutan buatan di tengah Kota Tenggarong, Kalimantan Timur.

"Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat di kota ini," kata Suhendri ketika ditanya soal alasannya mempertahankan hutan buatannya di tengah Kota Tenggarong, yang telah diciptakan sejak 33 tahun silam.

Asal Muasal Terciptanya Hutan Buatan

Tahun 1971 adalah tahun dimana Suhendri menginjakkan kaki untuk kali pertama di Kalimantan Timur. Saat itu, ia diterima sebagai pekerja proyek pembangunan asrama milik perusahaan kayu.

Pada masa itu, bisnis kayu sedang booming di pasaran. Ayah dari dua anak ini pun melihat banyak hutan yang gundul akibat pohonnya terus menerus ditebangi.

"Dari situ muncul motivasi. Saya akan merawat hutan. Saya kemudian beralih jadi petani, tapi garap lahan orang lain," ujar Suhendri.

Motivasi Suhendri tersebut berhasil mewujudkan impiannya untuk membeli tanah dengan luas sekitar 1.5 hektar di tahun 1979. Tanah tersebut kemudian dijadikan lahan agroforestri, yakni pertanian yang dipadu padankan dengan pohon atau tanaman hutan.

Tanah yang dibeli dengan harga Rp 100 ribu itu kemudian oleh Suhendri ditanami komoditas pertanian seperti cabe, sayuran dan buah-buahan.

Sampai di tahun 1986, Suhendri mulai menambah koleksi pertaniannya dengan menanam pohon berkayu yakni damar, meranti, kapur, pinus, kayu putih, ulin, dan sengon dimana bibitnya Ia dapatkan dari Bogor, Jawa Barat.

Banyak Dilirik Investor Hingga Ditawar Rp 10 Miliar

Tanah memang suatu investasi properti yang empuk. Banyak tanah kosong atau bahkan lahan pertanian diborong dan diubah menjadi perumahan demi keuntungan finansial.

Begitu pula dengan lahan milik Suhendri, banyak investor yang tertarik untuk membelinya. Hingga tawaran Rp 10 Miliar untuk lahan seluas 1.5 hektar ini pun dilayangkan. Namun, Suhendri menolak. Ia lebih memilih untuk mempertahankan lahan miliknya itu sebagai hutan penyedia oksigen dan ekosistem alami.

"Banyak yang datang mau beli, tapi saya tidak mau. Apalagi mau bikin perumahan, saya tidak mau, lingkungan rusak. Saya harap ada orang yang bisa melanjutkan merawat hutan ini meskipun bukan keluarga saya," jelas Suhendri.

Semangat menjaga lingkungan hijau dari Kakek Suhendri ini patut dicontoh. Yuk, berdayakan lahan kosong di sekitar rumahmu sebagai media tanam alami!
your advertise here

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

Themeindie.com